Pesan Anggota DPD Soal Netralitas Aparat dalam Pilkada Jateng 2024

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng Andika Perkasa (kedua kanan) dan Hendrar Prihadi (kanan) serta pasangan Cagub dan Cawagub Jateng Ahmad Luthfi (kiri) dan Taj Yasin (kedua) menunjukkan nomor urut mereka saat Rapat Pleno Terbuka Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Cagub dan Cawagub Jateng 2024 di Kantor KPU Provinsi Jateng, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin, 23 September 2024. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng Andika Perkasa dan Hendrar Prihadi mendapat nomor urut satu sementara Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Taj Yasin mendapat nomor urut dua. ANTARA FOTO/Aji Styawan

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng Andika Perkasa (kedua kanan) dan Hendrar Prihadi (kanan) serta pasangan Cagub dan Cawagub Jateng Ahmad Luthfi (kiri) dan Taj Yasin (kedua) menunjukkan nomor urut mereka saat Rapat Pleno Terbuka Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Cagub dan Cawagub Jateng 2024 di Kantor KPU Provinsi Jateng, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin, 23 September 2024.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Muhdi, mengingatkan aparat harus benar-benar menjaga netralitasnya pada pemilihan kepala daerah atau Pilkada Jateng 2024. Muhdi menyampaikan hal tersebut di Semarang pada Ahad, 13 Oktober 2024.

“Khusus yang pilgub (pemilihan gubernur dan wakil gubernur), ya namanya memang harus ekstra karena di situ kebetulan sama-sama purnawirawan,” kata Muhdi.

Pilgub Jateng 2024 diikuti oleh dua pasangan calon (paslon), yakni paslon nomor urut 1 Andika Perkasa-Hendrar Prihadi alias Hendi yang diusung PDI Perjuangan. Andika adalah purnawirawan jenderal TNI bintang empat yang pernah menjadi Panglima TNI, sedangkan Hendi adalah mantan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) RI dan mantan Wali Kota Semarang.

Paslon nomor urut 2 Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen diusung sembilan partai politik, yakni Nasem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Golkar, Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Demokrat, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Luthfi adalah purnawirawan jenderal polisi bintang tiga yang pernah menjabat Kepala Polda Jateng dan Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan, sedangkan Taj Yasin Maimoen adalah mantan Wakil Gubernur Jateng.

“Keduanya orang-orang besar dari dua institusi yang sebenarnya memang tidak punya hak pilih (TNI/Polri), tetapi mereka punya power yang sangat besar,” kata mantan Rektor Universitas PGRI Semarang itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*