Terbaru, PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) lewat konsorsium GIC-MPTC telah meneken akta jual beli saham sebesar 35% saham PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) pada 27 September 2024 lalu. Nilai akuisisi mencapai Rp15,75 triliun.
Induk JTT, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) telah menandatangani dokumen Sales Purchase Agreement (SPA) dengan PT Metro Pacific Tollways Indonesia Services (MPTIS), Warrington Investment Pte Ltd (Warrington) dan PT Margautama Nusantara (MUN) pada Jumat (27/9/2024).
Komposisi pemegang saham baru di PT JTT menjadi MPTIS sebesar 20,3%, Warrington sebesar 10,5%, dan MUN sebesar 4,2%. Ketiganya terafiliasi entitas grup Salim dimana Metro Pacific Tollways merupakan pemegang 95,52% saham META.
Grup Salim yang dipimpin Anthoni Salim memang merupakan salah satu konglomerat pemain bisnis tol di Indonesia. Namun tidak hanya grup itu, ada sejumlah konglomerat RI yang merupakan pemain bisnis tol.
Jusuf Hamka melalui perusahaannya PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) dikenal sebagai salah satu juragan jalan tol di Indonesia. Bagaimana tidak, Ia memiliki beberapa jalan tol di lokasi strategis, yakni berada di sekitaran Jabodetabek.
Total ada 7 jalan tol yang menjadi milik perusahaannya yakni CMNP. Perusahaannya merupakan perusahaan jalan tol swasta pertama di Indonesia.
Selanjutnya, Grup Agung Sedayu milik Sugianto Kusuma alias Aguan tengah menggarap jalan tol baru yang akan menghubungkan kawasan Kabupaten Tangerang ke sisi utara Jakarta, yakni Jalan Tol Kamal-Teluknaga-Rajeg. Nilai keseluruhannya mencapai Rp23,22 triliun dan ditargetkan rampung tahun 2025.
Agung Sedayu dan Grup Salim yang merupakan pengembang kawasan kota mandiri Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 atau The New Jakarta City, telah membentuk konsorsium bernama PT Duta Graha Karya, yang akan membangun tol tersebut.
Grup Sinar Mas juga tidak terluput dari bisnis tol. Sinar Mas Land melalui PT Trans Bumi Serbaraja merupakan badan badan usaha jalan tol (BUJT) dari Jalan Tol Serpong – Balaraja yang baru resmi beroperasi 30 September lalu.
Tol Serpong-Serbaraja Seksi 1B yaitu CBD BSD-Legok sepanjang 5,73 Km mulai beroperasi fungsional tanpa tarif sebagai bentuk dukungan konektivitas bagi masyarakat.
Tol tersebut merupakan bagian dari salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Bronnie mengatakan banyak orang yang menyesal karena tidak melakukan cukup banyak hal untuk diri mereka sendiri. Bronnie adalah mantan perawat pasien terminal yang selama 8 tahun memberikan bantuan bagi orang-orang yang berjuang melawan penyakit serius, banyak diantaranya berakhir dengan kematian.
Bronnie mengatakan karena pekerjaannya itu, dirinya kerap mendengarkan rasa bersalah dan penyesalan dari orang-orang yang berada di ranjang menjelang kematian. Dia mengumpulkan cerita-cerita itu dan menuangkannya dalam bukunya.
Dalam buku tersebut, Bronnie menyebut ada 5 kalimat penyesalan yang paling diutarakan oleh para pasiennya. Lima kalimat itu di antaranya.
1. Saya berharap saya memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan yang jujur pada diri saya sendiri, bukan kehidupan yang diharapkan orang lain dari saya.
2. Saya berharap saya tidak bekerja terlalu keras.
3. Saya berharap saya memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya.
4. Saya berharap saya tetap berhubungan dengan teman-teman saya.
5. Saya berharap saya membiarkan diri saya menjadi lebih bahagia.
Bronnie mengatakan penyesalan nomor 1 adalah yang paling sering dia dengar.
“Ketika orang menyadari bahwa hidup mereka hampir berakhir dan melihat ke belakang dengan jelas, mudah untuk melihat berapa banyak impian yang tidak terpenuhi,” tulis Bronnie.
“Kebanyakan orang tidak mencapai bahkan setengah dari impian mereka dan harus mati karena mengetahui bahwa itu disebabkan oleh pilihan yang telah mereka buat, atau tidak buat.”
Bronnie menulis mungkin banyak orang yang memilih jurusan kuliah, jalur karier, atau pekerjaan yang diinginkan oleh orang tua. Banyak pula orang yang mungkin mengorbankan Impian berkeliling dunia, demi tetap dekat dengan orang yang dicintai.
“Selamatkan diri Anda dari penyesalan seumur hidup dengan mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan Anda saat mengambil keputusan,” kata Bronnie menyarankan.
Mengenai penyesalan karena terlalu keras bekerja, penelitian yang dilakukan Haris Poll terhadap 1.170 pekerja di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 78% dari mereka mengorbankan waktu liburannya untuk tetap bekerja.
Memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya membuat upaya menjaga kesehatan mental dan hubungan menjadi lebih sulit. Pendiri Microsoft, Bill Gates pernah menceritakan pengalamannya soal bekerja terlalu keras dalam pidato wisuda di Northern Arizona University.
“Saat aku seusiamu, aku tidak percaya pada liburan. Saya tidak percaya pada akhir pekan. Saya tidak percaya orang-orang yang bekerja dengan saya juga harus melakukannya,” kata Gates. Namun, dia mengaku tidak menyadari ada lebih banyak hal dalam hidup ini selain bekerja. Gates baru menyadari hal itu ketika dirinya menjadi seorang ayah.
“Jangan menunggu selama saya menunggu untuk mempelajari pelajaran ini,” katanya. “Luangkan waktu untuk membina hubungan Anda. Untuk merayakan kesuksesan Anda. Dan untuk pulih dari kerugian Anda. Beristirahatlah saat Anda membutuhkannya. Bersantailah pada orang-orang di sekitar Anda saat mereka membutuhkannya juga.”
Mencurahkan waktu dan perhatian kepada teman dan keluarga, mengutamakan kepentingan diri sendiri dan tetap setia pada diri sendiri semuanya berperan dalam kebahagiaan dan kepuasan hidup secara keseluruhan, menurut Bronnie.
“Kebanyakan orang tidak menyadari hal itu sampai semuanya terlambat,” tulisnya dalam postingan blognya.
“Banyak yang tidak menyadari sampai akhir bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Mereka tetap terjebak dalam pola dan kebiasaan lama. Apa yang disebut ‘kenyamanan’ dari keakraban meluap ke dalam emosi mereka… Ketika jauh di lubuk hati, mereka ingin tertawa dengan benar dan merasakan kekonyolan dalam hidup mereka lagi,” tulisnya.
“Hidup adalah sebuah pilihan,” tambah Bronnie. “Ini adalah hidup anda. Pilihlah dengan sadar, pilihlah dengan bijak, pilihlah dengan jujur. Memilih kebahagiaan.”
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara maju itu telah mengakhiri ketidakpastian pasar keuangan yang terjadi sejak Maret 2022 akibat tren suku bunga kebijakan moneter yang tinggi.
Maka, ketika September 2024 berbagai bank sentral dunia telah menurunkan suku bunga acuannya secara drastis, membuat aliran modal asing deras masuk ke berbagai negara pasar berkembang atau emerging markets, termasuk Indonesia.
“Di China juga sudah melakukan berbagai kebijakan stimulus, sehingga konvergensi kebijakan negara-negara maju dan besar ini yang kemudian menurunkan, meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global dan meningkatkan aliran masuk ke negara-negara emerging market termasuk Indonesia,” kata Juda Agung di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Juda Agung mengatakan berakhirnya ketidakpastian pasar keuangan itu ke depan akan semakin kuat, setelah berbagai indikator tekanan ekonomi, seperti inflasi yang tinggi di negara-negara maju seperti AS sudah mulai berakhir.
“Nah alhamdulillah saat ini ketidakpastian saat ini makin mereda, sejalan dengan terus melambatnya inflasi di berbagai negara. Di AS inflasi diperkirakan akan mendekati sasaran inflasi sebesar 2% di tengah meningkatnya angka pengangguran,” ucap Juda Agung.
Dengan semakin berkurangnya ketidakpastian global, dan kian derasnya aliran modal AS, Juda mengatakan, kini stabilitas sistem keuangan di Indonesia sudah semakin membaik, termasuk dari sisi pasar keuangan dan penguatan nilai tukar rupiah.
“Rupiah menguat yang kemudian buka ruang penurunan suku bunga. Di sektor perbankan juga ketahanan permodalan yang tinggi, likuiditas yang memadai, dan risiko kredit yang terkendali juga terus mendorong pertumbuhan kinerja intermediasi perbankan yang hingga Agustus kemarin di 11,4% yoy,” tuturnya.
Oleh sebab itu, Juda mengatakan, dengan berbagai faktor positif itu, perbankan di Indonesia juga akan semakin gencar menyalurkan kreditnya ke depan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Ia menargetkan, sasaran penyaluran kredit di kisaran 10-12% pada tahun ini akan tercapai.
“Banyak yang meninggalkan utang puluhan miliar sesuai kapasitas usaha, yang utangnya Rp 50 miliar banyak. Dan mereka harus tutup karena ngga sanggup. Kalau ada tanggungan 50 miliar lama banget dibayarnya,” Sekretaris Jenseral Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi kepada CNBC Indonesia, Rabu (2/10/24).
Utang tersebut untuk berasal dari berbagai sumber, misalnya telatnya pembayaran ke sumber pakan hingga transportasi. Utang tersebut terakumulasi hingga besar.
Ia berharap pemerintah lebih peduli terhadap peternak kecil dengan memperbaiki tata niaga program yang jelas. Pasalnya dengan kondisi sekarang banyak peternak merugi karena daya beli melemah dan berdampak pada minimnya serapan, sedangkan harga pakan terus naik.
“Alhasil meninggalkan utang, yang terjadi kerugian, mereka harus menanggung dan ngga sanggup mengembalikan karena iklim usaha buruk, ini jadi beban tersendiri, masalah individual jadi masalah kolektif seolah ngga ada masalah, padahal ngga diperdulikan,” kata Sugeng.
Penurunan serapan sudah terlihat dari makin berkurangnya pedagang yang mengambil hasil peternak ke kandang.
Sugeng mencontohkan, sebelumnya ada 1.500 pedagang per hari yang mengambil ke kandang, namun saat ini berkurang hanya menjadi 1.200 pedagang.
“Kalau dilihat kelihatannya harga juga belum naik karena daya beli melemah, lalu merubah suplai ngga secepat itu ditambah perkembangan deflasi,” sebut Sugeng.
Jika sekarang motor dan mobil menggunakan bensin sebagai Bahan Bakar Mesin (BBM), maka bagaimana dengan kendaraan mesin roda dua dan empat yang dimiliki kedua tokoh tersebut?
Sebab, motor dan mobil menjadi barang baru di Indonesia yang belum diketahui proses pembakarannya. Apakah menggunakan bensin seperti sekarang dan bagaimana cara mendapatnya?
Pada dasarnya mekanisme kendaraan mesin pasti menggunakan bahan bakar. Hanya saja, Potter dan Pakubuwana X menunggangi kendaraannya tidak menggunakan bensin, melainkan bahan bakar bernama naphtha.
Naphtha merupakan hasil sulingan murni minyak bumi berwarna kuning yang tanpa dicampur zat kimia. Dulu, naphtha digunakan untuk pelumas industri. Encyclopaedia Brittanica menyebut naphtha kini merupakan sejenis pengencer dan pelarut yang jadi bahan baku pembentukan bensin.
Keberadaan naphtha sudah lebih dulu ada di Indonesia seiring kemunculan industri minyak bumi. Jejak naptha sudah tercatat oleh banyak koran-koran di masa kolonial, sebelum kemunculan motor dan mobil pada 1893.
Harian Java Bode (23 Juli 1892), misalnya, menyebut napthta sudah dikirim ke luar negeri seiring hadirnya pertambangan minyak bumi. Lalu, pada 21 Juni 1899, harian Soerajaijasch Handelsblad sudah menjelaskan bagaimana proses pemisahan hasil minyak bumi menjadi minyak tanah dan naphta yang akan dipakai untuk hal berbeda.
Tentu saja, keberadaan naphta tak mudah diperoleh. Alias harganya mahal. Meski begitu, Potter dan Pakubuwono X tetap membelinya demi menjajal berkendara roda empat dan roda dua yang sudah dibeli dengan harga mahal pula.
Setelah tanki bensin diisi naphta, biasanya kendaraan harus dinyalakan terlebih dahulu selama 20 menit. Jika sudah, baru bisa dikendarai.
Secara global, para teknisi mulai terpikir bahwa kemunculan kendaraan mesin harus disertai kemajuan teknologi bahan bakar. Dari sini, mulai muncul upaya penyesuaian dari semula naphta menjadi bensin.
Pada 1920-an, naphta digantikan oleh bensin sebagai bahan bakar mesin roda dua dan empat. Bensin yang digunakan sudah dicampur zat kimia, yakni tetraethyllead (timbal), isooktan dan heptana. Campuran zat kimia tersebut menghasilkan beragam jenis bensin berdasarkan jenis oktan, atau disebut Research Octane Number (RON).
Ketika bensin mulai eksis, pertumbuhan kendaraan bermesin di Indonesia semakin pesat. J. Stroomberg dalam Hindia Belanda 1930 (2017) memaparkan, pada 1928 saja sudah terdapat 40.154 mobil, 10.505 motor, 3.756 truk, dan 2.545 bus. Bahkan sejak tahun 1927 terdapat pabrik perakitan mobil di Tanjung Priuk, Batavia.
Sebagai bank yang menyediakan layanan keuangan yang komprehensif, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI pun bersiap untuk berperan lebih jauh untuk memacu transaksi ekonomi keuangan digital di Tanah Air. Kehadiran Wondr by BNI di Juli 2024 lalu pun menjadi salah satu milestone untuk BNI.
Lantas, bagaimana dengan perkembangan pengguna dan performa dari Wondr by BNI? Serta bagaimana juga rencana BNI untuk mengembangkan fitur-fitur di platform digital perseroan? Hingga rencana transformasi bisnis hingga strategi BNI agar bisa menjaga tren kinerja yang positif tetap berlanjut?
Temukan jawabannya dalam sesi dialog eksklusif Jurnalis CNBC Indonesia, Anneke Wijaya bersama dengan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Royke Tumilaar yang bertajuk “Digitalisasi Semakin Kencang, BNI Optimistis Bisnis Terus Tumbuh Positif”, di siang hari ini, pukul 12.05 WIB, dalam segmen khusus Money Talks, Program Power Lunch, CNBC Indonesia.
Hingga kini, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum mengetahui alasan ditetapkannya 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Ternyata, ada sejarah di balik penetapan hari peringatan yang pada tahun ini jatuh pada Rabu (2/10/2024).
Pada 15 tahun yang lalu, Hari Batik Nasional resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009 sebagai tindak lanjut dari pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Indonesia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 2 Oktober 2009.
Namun, perjalanan batik saat sebelum dan sesudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda milik Indonesia tak mudah. Sebab, Batik beberapa kali diklaim sebagai kebudayaan dari negara lain. Berikut rangkumannya.
1. Batik Diklaim Malaysia, Masyarakat Geram dan Pemerintah Bertindak
Pada sekitar 2008 silam, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh sikap Malaysia yang menyebut bahwa batik adalah warisan kebudayaan asli Negeri Jiran. Masyarakat Indonesia yang geram pun mendesak Pemerintah Indonesia untuk mendaftarkan batik sebagai warisan asli Indonesia ke UNESCO.
Melansir dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek RI), Pemerintah Indonesia resmi mendaftarkan batik ke dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO pada 3 September 2008.
Pada 9 Januari 2009, UNESCO resmi menerima pendaftaran tersebut dan melakukan pengujian tertutup pada 11-14 Mei 2009. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO resmi mengukuhkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguard of the Intangible Cultural Heritage.
Setelah penetapan oleh UNESCO tersebut, kasus pengakuan batik sebagai warisan budaya asli Malaysia pun selesai.
Mengutip website www.gov.uk, Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) mengeluarkan nasihat perjalanan, terkait peringatan hujan lebat dan banjir yang terjadi di beberapa wilayah negara itu. Soal terorisme juga menjadi alasan lain.
“Thailand saat ini menghadapi hujan lebat dan banjir di beberapa wilayah negara tersebut, termasuk banjir yang meluas di Thailand utara. Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan terkait wilayah dekat Sungai Ping, termasuk di pusat Chiang Mai. Tetap waspada dan ikuti saran dari pemerintah setempat,” bunyi pengumuman pemerintah.
Khusus terorisme FCDO menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan kecuali yang penting ke wilayah selatan. Terutama dekat perbatasan Thailand-Malaysia.
“Hal ini disebabkan oleh serangan teroris yang rutin terjadi di provinsi-provinsi di dekat perbatasan dengan Malaysia,” tegasnya.
Ada beberapa wilayah yang menjadi perhatian. Yakni Provinsi Pattani, Provinsi Yala, Provinsi Narathiwat dan Provinsi Songkhla bagian selatan.
“FCDO juga menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan kecuali yang penting pada jalur kereta Hat Yai ke Padang Besar yang melintasi provinsi-provinsi ini,” tambahnya.
Foto: Jutaan rokok ilegal polos dan berpita cukai palsu diamankan oleh Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I dan Bea Cukai Sidoarjo
Dorongan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mengesahkan Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) yang mewajibkan kemasan rokok polos tanpa merek sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2024 menimbulkan banyak kritik. Sejumlah petinggi perwakilan rakyat di DPR pun secara langsung menolak RPMK tersebut karena berpotensi menyebabkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di Industri Hasil Tembakau (IHT), memengaruhi penghidupan jutaan orang, menurunkan penerimaan negara, serta menyuburkan rokok ilegal.
Berikut dirangkum sembilan anggota DPR yang menolak RPMK tersebut:
1. Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI, dan Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem dan Anggota Komisi XI DPR, Willy Aditya
Willy menilai kebijakan ini akan mengancam hajat hidup orang banyak bahkan berpotensi PHK.
“Alih-alih menghidupkan ekonomi, kebijakan ini malah meredupkan sektor usaha khususnya industri hasil tembakau. Ditambah lagi, aturan ini dibangun secara sepihak dan tidak melibatkan stakeholder serta tidak komprehensif pasti akan berekses negatif,” ungkap Willy dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (24/9/2024).
Willy juga berpendapat kebijakan ini akan menekan dari sisi produksi IHT. Akhirnya, industri akan melakukan efisiensi di mana-mana, khususnya tenaga kerja. Maka potensi PHK massal jadi keniscayaan.
2. Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Golkar, Yahya Zaini
Yahya mengatakan bahwa pengaturan terkait industri hasil tembakau semestinya tetap diberikan ruang hidup dan pengaturannya tidak boleh terlalu ketat. Dia menegaskan industri hasil tembakau sebagai ekosistem, dimana jutaan orang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini.
“Ekosistem kita ini sangat berbeda dengan negara-negara lain yang tidak punya pabrik dan perkebunan tembakau seluas di negara kita. Kalau mau diberlakukan harus diberikan ruang hidup, jangan terlalu ketat,” tegas Yahya.
Yahya juga menyayangkan ketiadaan pelibatan para pemangku kepentingan yang terdampak dalam penyusunan regulasi ini. Yahya menyebut bahwa masyarakat tembakau dan anggota DPR Komisi IX tidak dilibatkan dalam pembahasan PP 28/2024.
“Kami berharap dapat dilibatkan kembali atau dilaporkan hasilnya karena terus terang hal itu tidak dilakukan. Kita juga protes tapi suara kami tidak didengar,” keluhnya.
3. Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Abidin Fikri
Abidin mengaku kaget dengan langkah Kementerian Kesehatan terkait RPMK tersebut. Komisi IX DPR RI memberikan beberapa catatan saat pembahasan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Salah satu catatannya yaitu meminta Kementerian Kesehatan mengkonsultasikan pembuatan aturan teknis demi menghindari polemik.
“Jangan sampai rumusannya membuat kegaduhan baru. Karena bagi kami bukan soal perokok dan tidak merokok tetapi ekosistem ekonomi dari Indonesia,” kata Abidin.
4. Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Nur Nadlifah
Nur menyoroti masalah dalam proses pembuatan peraturan yang dianggap tidak melibatkan Parlemen sama sekali. RPMK dan PP 28/2024 tidak sesuai dengan kesepakatan awal antara Komisi IX dan Kementerian Kesehatan pada saat pembahasan UU Kesehatan. Menurutnya, Kemenkes sudah melewati batas kewenangan dengan mengatur hal-hal yang terkait dengan wewenang kementerian lainnya.
“Kami mendapat banyak masukan dari konstituen mengenai rencana kebijakan kemasan rokok polos tanpa merek yang sudah melewati batas wewenang Kemenkes dan PP 28/2024 yang bermasalah untuk berbagai industri,” tutur Nadlifah.
Dia menambahkan, usulan Kemenkes untuk mendorong kemasan rokok polos tanpa merek tersebut berpotensi semakin meningkatkan peredaran rokok ilegal menjadi semakin marak.
5. Anggota Komisi IX DPR Fraksi Partai Nasdem, Nurhadi
Menurut Nurhardi, Kemenkes harus mempertimbangkan dampak sosial dari RPMK tersebut. Terlebih, di tengah kondisi ekonomi nasional yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Kalau RPMK ini tidak dikoreksi atau dievaluasi, maka selain akan menyebabkan kegaduhan di dalam negeri, ini tentu juga akan berpotensi sekitar 6 juta pekerja tereduksi dan menambah rentetan jumlah PHK,” ucapnya.
6. Anggota Komisi XI DPR RI, Fraksi Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun
Misbakhun menyoroti bagaimana kebijakan kemasan rokok polos tanpa merek ini masuk pertimbangan dalam amanat RPMK. Ia mengatakan bahwa RPMK menciptakan iklim usaha yang tidak sehat dan diskriminatif. Padahal, industri hasil tembakau adalah produk legal. Sangat jelas bahwa kebijakan tersebut telah melalaikan kepentingan petani, pekerja atau buruh, dan pedagang yang menggantungkan diri pada industri hasil tembakau.
“Dampak ekonomi yang signifikan ini malah menjadi sesuatu yang luput untuk dilihat oleh para pemangku kebijakan sehingga saya melihat ini adalah pendekatan yang tidak seimbang,” kata dia.
Misbakhun mengkritisi penggodokan kebijakan yang terjadi. Ia melihat hal ini menjadi dorongan dari Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebuah kesepakatan segelintir negara-negara sebagai bentuk pengendalian tembakau. Sejatinya Indonesia sendiri merupakan negara produsen tembakau, berbeda dengan negara lain yang memberlakukan kebijakan FCTC. Menurutnya, Indonesia harus punya kedaulatan penuh dan punya dasar untuk berani mengambil sikap untuk melindungi jutaan tenaga kerja di industri hasil tembakau.
7. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Daniel Johan
Daniel Johan menegaskan bahwa peraturan ini tidak hanya akan berdampak pada ekonomi, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. “Aturan yang terlalu mematikan ini cenderung mengabaikan realitas bahwa produk ini adalah sumber penghidupan bagi banyak orang, terutama bagi para petani tembakau dan industri terkait,” ujar Daniel.
Menurutnya, kebijakan ini terlalu fokus pada pengendalian tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Menurutnya, kebijakan pemerintah harus membela kepentingan rakyat.
8. Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo
Firman menilai aturan ini mengabaikan hak-hak hidup masyarakat luas. Kebijakan itu berpotensi mendiskriminasi berbagai kelompok masyarakat, termasuk pedagang ritel dan petani tembakau.
Menurutnya, peraturan tersebut jelas akan berdampak pada kelompok masyarakat kecil seperti pedagang asongan, dan industri hasil tembakau yang telah berkontribusi besar pada pendapatan negara melalui cukai. Dampak tersebut terasa signifikan bagi tenaga kerja dan petani tembakau, yang selama ini menggantungkan hidup pada industri hasil tembakau.
“Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan dalam proses pembuatan peraturan, yang seharusnya melibatkan semua stakeholder, termasuk menteri-menteri terkait, tanpa adanya unsur diskriminatif,” ujarnya.
9. Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rahmad Handoyo
Rahmad menyoroti kekhawatiran pihak terdampak akibat kemunculan aturan ini karena dinilai sangat diskriminatif terhadap produk tembakau dan keberlangsungan mata rantainya. Ia meminta permasalahan ini perlu diselisik keseimbangannya.
“Karena faktanya, tembakau adalah komoditas unggulan nasional yang sangat digantungkan oleh jutaan orang mulai dari buruh pekerja, petani tembakau, dan peritel beserta keluarganya,” katanya.
Apalagi menurut Rahmad, telah banyak kebijakan yang memberatkan sektor pertembakauan seperti kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) eksesif yang telah mendorong penyebaran rokok ilegal.
Mengutip CNN Internasional, satu dekade setelah penemuan keju pada sisa-sisa mumi yang masih utuh akibat kondisi Gurun Taklamakan yang gersang, para ilmuwan berhasil mengekstraksi dan mengurutkan DNA dari keju berusia 3.600 tahun, yang tertua dalam catatan arkeologi.
Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli paleogenetika China Qiaomei Fu mengidentifikasi DNA kambing dan sapi dalam sampel keju.
Para peneliti juga dapat mengurutkan DNA mikroba yang terkandung dalam keju, yang mengonfirmasi bahwa itu adalah kefir, jenis keju yang masih banyak dibuat dan dimakan hingga saat ini. Fu adalah direktur laboratorium DNA purba di Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi di Beijing.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Cell ini mengungkap bagaimana orang Xiaohe membuat keju, menunjukkan cara manusia memanfaatkan mikroba untuk meningkatkan kualitas makanan mereka dan bagaimana mikroba dapat digunakan untuk melacak pengaruh budaya sepanjang masa.
Bagaimana masyarakat gurun membuat keju?
Ratusan orang yang telah dimumikan ditemukan pada tahun 1990-an di tempat yang dikenal sebagai pemakaman Xiaohe di Tarim Basin, daerah gurun yang di wilayah Xinjiang, Tiongkok. Terawetkan secara alami oleh udara gurun yang kering, fitur wajah dan warna rambut mereka terlihat jelas meskipun usianya mencapai 4.000 tahun.
Dikubur dengan pakaian yang ditenun dan dirajut, mumi Tarim Basin dan berbagai pengaruh budayanya telah lama membingungkan para arkeolog. Meskipun termasuk dalam kelompok yang terisolasi secara genetik, orang-orang tersebut tetap menerima ide dan teknologi baru, menurut sebuah studi Oktober 2021.
Penelitian baru menunjukkan bahwa masyarakat Xiaohe tidak mencampur berbagai jenis susu hewani saat membuat kefir, praktik yang umum dalam pembuatan keju tradisional Timur Tengah dan Yunani, meskipun tidak jelas alasannya.
“Masyarakat Xiaohe pasti membuat keju dengan cara yang sama seperti produsen tradisional membuat keju kefir saat ini, dengan menggunakan biji kefir yang sudah dibuat sebelumnya (mirip dengan biang kombucha atau starter roti) yang diwariskan melalui keluarga, teman, dan kontak sosial lainnya,” kata Taylor Hermes, asisten profesor di departemen antropologi di Universitas Arkansas, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
“Inilah yang membuat penelitian ini begitu penting – kita dapat melihat bagaimana komoditas mikroba ini diturunkan dan disebarkan ke seluruh Asia,” kata Hermes.